Saat aku mencoba flashback ke masa kecilku, memoriku kembali terpola dan menayangkan kebersamaan dalam Keluarga Besar Abd. Rachim Abdullah, lucu, bahagia, menyenangkan dan sangat hangat ada di dalamnya. Ibu adalah enterpreuner terhebat dalam sejarah hidup kami, sekaligus chef kelas dunia dan belum ada tandingannya hingga saat ini, wanita perkasa yang tidak pernah mengeluh, tegar dan mau belajar dari kesalahan sebelumnya. Sementara bapak, baik saat masih aktif sebagai TNI maupun setelah pensiun, tetap saja menjadi sosok handal dalam menciptakan uang. Aku tahu betapa hebatnya beliau dalam memburu uang, karena setiap kali keluar rumah, tidak pernah lupa berdoa, dengan kacamata hitamnya khasnya, baju rapih. Beliau mulai memburu uang, dan kami tahu hari itu dikantongnya hanya ada uang receh saja. Tetapi menjelang lepas maghrib biasanya beliau sudah kembali, dan dikantongnya sudah ada lembaran-lembaran uang yang cukup lumayan. Aku tidak tahu beliau punya usaha apa, karena tidak pernah terbuka. Tapi aku yakin uang yang beliau dapatkan adalah uang halal. Begitupun ibu, saat mulai stress menghadapi kesulitan uang belanja tambahan dan itu biasanya guna memenuhi kebutuhan sekolah. Beliau dapat menyulap tanah tempat sampah menjadi gundukan uang yang akan selalu ada setiap bulan sekali, tiga bulan sekali atau setahun sekali. Dari mana? Apakah bernuansa mistis? Bukan, beliau dengan sisa uang seadanya membeli material bangunan, kemudian disulaplah tanah tadi untuk dijadikan sebuah bangunan, dan bangunan ini akan segera laku untuk di kontrak orang buat usaha atau tempat tinggal. Itulah sosok orang tua kami, karena itu setelah kepergiaannya aku merasakan sepi yang amat sangat, belum banyak ilmu yang belum sempat aku gali dari beliau. Menyesal, tentu saja. Bahkan yang lebih buruk adalah, aku bahkan tidak punya foto dokumentasi mereka, baik sendiri maupun berdua. Baik saat bapak masih aktif ataupun sudah pensiun. Dalam setiap doaku aku selalu meminta kepada Allah SWT agar kepada beliau berdua dibukakan pintu ampunan seluas-luasnya, diterangi dan diluaskan kuburnya, diampuni segala dosa-dosanya serta dimudahkan jalannya melewati jembatan Sirataal Mustaqim. "Ibu, Bapak.........doakan anak-anakmu juga agar selalu tetap menjaga kebersamaan yang telah kalian ajarkan saat kami kecil dulu, Aaamiiin Ya Kariem

Tidak ada komentar:
Posting Komentar